Keajaiban Imam Bukhari -rahimahullah-

Keajaiban Imam Bukhari -rahimahullah-.

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under BIOGRAFI

Download Video: Kisah Maryam dan Asiyah [Ust. Abu Abdillah Ahmad Zain]

Download Video: Kisah Maryam dan Asiyah [Ust. Abu Abdillah Ahmad Zain].

Tinggalkan komentar

Filed under BIOGRAFI

KEUTAMAAN TERSENYUM DI HADAPAN SEORANG MUSLIM

KEUTAMAAN TERSENYUM DI HADAPAN SEORANG MUSLIM.

Tinggalkan komentar

Filed under adab-akhlak

RADIO SUNNAH

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Al Hasan Al Bashri

Al Hasan Al Bashri

(30-110 H)

Suatu hari ummahatul mu’minin, Ummu Salamah, menerima khabar bahwa mantan “maula” (pembantu wanita)-nya telah melahirkan seo¬rang putera mungil yang sehat. Bukan main gembiranya hati Ummu Salamah mendengar berita tersebut. Diutusnya seseorang untuk mengundang bekas pembantunya itu untuk menghabiskan masa nifas di rumahnya.

Ibu muda yang baru melahirkan tersebut bernama Khairoh, orang yang amat disayangi oleh Ummu Salamah. Rasa cinta ummahatul mu’minin kepada bekas maulanya itu, membuat ia begitu rindu untuk segera melihat puteranya. Ketika Khairoh dan puteranya tiba, Ummu Salamah memandang bayi yang masih merah itu dengan penuh sukacita dan cinta. Sungguh bayi mungil itu sangat menawan. “Sudahkah kau beri nama bayi ini, ya Khairoh?” tanya Ummu Salamah. “Belum ya ibunda. Kami serahkan kepada ibunda untuk menamainya” jawab Khairoh. Mendengar jawaban ini, ummahatul mu’minin berseri-seri, seraya berujar “Dengan berkah Allah, kita beri nama Al-Hasan.” Maka do’apun mengalir pada si kecil, begitu selesai acara pembe¬rian nama.

Al-Hasan bin Yasar – atau yang kelak lebih dikenal sebagai Hasan Al-Basri, ulama generasi salaf terkemuka – hidup di bawah asuhan dan didikan salah seorang isteri Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam: Hind binti Suhail yang lebih terkenal sebagai Ummu Salamah. Beliau adalah seorang puteri Arab yang paling sempurna akhlaqnya dan paling kuat pendiriannya, ia juga dikenal – sebelum Islam – sebagai penulis yang produktif. Para ahli sejarah mencatat beliau sebagai yang paling luas ilmunya di antara para isteri Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam.

Waktu terus berjalan. Seiring dengan semakin akrabnya hubun¬gan antara Al-Hasan dengan keluarga Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam, semakin terbentang luas kesempatan baginya untuk ber”uswah” (berteladan) pada ke¬luarga Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. Pemuda cilik ini mereguk ilmu dari rumah-rumah ummahatul mu’minin serta mendapat kesempatan menimba ilmu bersama sahabat yang berada di masjid Nabawiy.

Ditempa oleh orang-orang sholeh, dalam waktu singkat Al-Hasan mampu meriwayatkan hadist dari Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abu Musa Al-Asy’ari, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Anas bin Malik dan sahabat-sahabat RasuluLlah lainnya. Al-Hasan sangat mengagumi Ali bin Abi Thalib, karena keluasan ilmunya serta kezuhudannya. Penguasan ilmu sastra Ali bin Abi Thalib yang demikian tinggi, kata-katanya yang penuh nasihat dan hikmah, membuat Al-Hasan begitu terpesona.

Pada usia 14 tahun, Al-Hasan pindah bersama orang tuanya ke kota Basrah, Iraq, dan menetap di sana. Dari sinilah Al-Hasan mulai dikenal dengan sebutan Hasan Al-Basri. Basrah kala itu terkenal sebagai kota ilmu dalam Daulah Islamiyyah. Masjid-masjid yang luas dan cantik dipenuhi halaqah-halaqah ilmu. Para sahabat dan tabi’in banyak yang sering singgah ke kota ini.Di Basrah, Hasan Al-Basri lebih banyak tinggal di masjid, mengikuti halaqah-nya Ibnu Abbas. Dari beliau, Hasan Al-Basri banyak belajar ilmu tafsir, hadist dan qiro’at. Sedangkan ilmu fiqih, bahasa dan sastra dipelajarinya dari sahabat-sahabat yang lain. Ketekunannya mengejar dan menggali ilmu menjadikan Hasan Al-Basri sangat ‘alim dalam berbagai ilmu. Ia terkenal sebagai seorang faqih yang terpercaya.

Keluasan dan kedalaman ilmunya membuat Hasan Al-Basri banyak didatangi orang yang ingin belajar langsung kepadanya. Nasihat Hasan Al-Basri mampu menggugah hati seseorang, bahkan membuat para pendengarnya mencucurkan air mata. Nama Hasan Al-Basri makin harum dan terkenal, menyebar ke seluruh negeri dan sampai pula ke telinga penguasa.

Ketika Al-Hajaj ats-Tsaqofi memegang kekuasan gubernur Iraq, ia terkenal akan kediktatorannya. Perlakuannya terhadap rakyat¬ terkadang sangat melampaui batas. Nyaris tak ada seorang pun penduduk Basrah yang berani mengajukan kritik atasnya atau menen¬tangnya. Hasan Al-Basri adalah salah satu di antara sedikit penduduk Basrah yang berani mengutarakan kritik pada Al-Hajaj. Bahkan di depan Al-Hajaj sendiri, Hasan Al-Basri pernah menguta¬rakan kritiknya yang amat pedas.

Saat itu tengah diadakan peresmian istana Al-Hajaj di tepian kota Basrah. Istana itu dibangun dari hasil keringat rakyat, dan kini rakyat diundang untuk menyaksikan peresmiannya. Saat itu tampillah Hasan Al-Basri menyuarakan kritiknya terhadap Al-Hajaj : “Kita telah melihat apa-apa yang telah dibangun oleh Al-Hajaj. Kita juga telah mengetahui bahwa Fir’au membangun istana yang lebih indah dan lebih megah dari istana ini. Tetapi Allah menghancurkan istana itu … karena kedurhakaan dan kesombongannya …”

Kritik itu berlangsung cukup lama. Beberapa orang mulai cemas dan berbisik kepada Hasan Al-Basri, “Ya Abu Sa’id, cukupkanlah kritikmu, cukuplah!” Namun beliau menjawab, “Sungguh Allah telah mengambil janji dari orang-orang yang berilmu, supaya menerangkan kebenaran kepada manusia dan tidak menyembunyikannya.”

Begitu mendengar kritik tajam tersebut, Al-Hajaj menghardik para ajudannya, “Celakalah kalian! Mengapa kalian biarkan budak dari Basrah itu mencaci maki dan bicara seenaknya? Dan tak seo¬rangpun dari kalian mencegahnya? Tangkap dia, hadapkan kepadaku!” .

Semua mata tertuju kepada sang Imam dengan hati berge¬tar. Hasan Al-Basri berdiri tegak dan tenang menghadapi Al-Hajaj bersama puluhan polisi dan algojonya. Sungguh luar biasa ketenan¬gan beliau. Dengan keagungan seorang mu’min, izzah seorang muslim dan ketenangan seorang da’i, beliau hadapi sang tiran.

Melihat ketenangan Hasan Al-Basri, seketika kecongkakan Al-Hajaj sirna. Kesombongan dan kebengisannya hilang. Ia langsung menyambut Hasan Al-Basri dan berkata lembut, “Kemarilah ya Abu Sa’id …” Al-Hasan mendekatinya dan duduk berdampingan. Semua mata memandang dengan kagum.

Mulailah Al-Hajaj menanyakan berba¬gai masalah agama kepada sang Imam, dan dijawab oleh Hasan Al-Basri dengan bahasa yang lembut dan mempesona. Semua pertanyaan¬nya dijawab dengan tuntas. Hasan Al-Basri dipersilakan untuk pulang. Usai pertemuan itu, seorang pengawal Al-Hajaj bertanya, “Wahai Abu Sa’id, sungguh aku melihat anda mengucapkan sesuatu ketika hendak berhadapan dengan Al-Hajaj. Apakah sesungguhnya kalimat yang anda baca itu?” Hasan Al-Basri menjawab, “Saat itu kubaca: Ya Wali dan PelindungKu dalam kesusahan. Jadikanlah hukuman Hajaj sejuk dan keselamatan buatku, sebagaimana Engkau telah jadikan api sejuk dan menyelamatkan Ibrahim.”

Nasihatnya yang terkenal diucapkannya ketika beliau diundang oleh penguasa Iraq, Ibnu Hubairoh, yang diangkat oleh Yazid bin Abdul Malik. Ibnu Hubairoh adalah seorang yang jujur dan sholeh, namun hatinya selalu gundah menghadapi perintah-perintah Yazid yang bertentangan dengan nuraninya. Ia berkata, “Allah telah memberi kekuasan kepada Yazid atas hambanya dan mewajibkan kita untuk mentaatinya. Ia sekarang menugaskan saya untuk memerintah Iraq dan Parsi, namun kadang-kadang perintahnya bertentangan dengan kebenaran. Ya, Abu Sa’id apa pendapatmu? Nasihatilah aku …”

Berkata Hasan Al-Basri, “Wahai Ibnu Hurairoh, takutlah kepada Allah ketika engkau mentaati Yazid dan jangan takut kepada Yazid¬ketika engkau mentaati Allah. Ketahuilah, Allah membelamu dari Yazid, dan Yazid tidak mampu membelamu dari siksa Allah. Wahai Ibnu Hubairoh, jika engkau mentaati Allah, Allah akan memelihara¬mu dari siksaan Yazid di dunia, akan tetapi jika engkau mentaati Yazid, ia tidak akan memeliharamu dari siksa Allah di dunia dan akhirat. Ketahuilah, tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam ma’siat kepada Allah, siapapun orangnya.” Berderai air mata Ibnu Hubairoh mendengar nasihat Hasan Al-Basri yang sangat dalam itu.

Pada malam Jum’at, di awal Rajab tahun 110H, Hasan Al-Basri memenuhi panggilan Robb-nya. Ia wafat dalam usia 80 tahun. Pendu¬duk Basrah bersedih, hampir seluruhnya mengantarkan jenazah Hasan Al-Basri ke pemakaman. Hari itu di Basrah tidak diselenggarakan sholat Ashar berjamaah, karena kota itu kosong tak berpenghuni.

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

waffaqakumullah

Agar Belajar ‘Tak Membosankan
17 September 2007 admin Tinggalkan komentar Go to comments
Agar Belajar ‘Tak Membosankan
Penulis: Aboe Zaid POSO
Sudah menjadi tabi’at dari seorang insan adalah tidak menyukai sesuatu yang diulang-ulang. Setiap menusia menyukai perubahan. Begitupula ketika sedang membaca atau belajar, baik pelajaran yang berkaitan dengan materi Diniyah (agama) maupun tentang duniawiyah (misalnya pelajaran kuliah). Kita ambil contoh, seseorang yang mengkhususkan waktunya enam jam untuk mempelajari ilmu Dien, dan dia ingin menghabiskannya untuk satu macam ilmu Dien, maka belum sampai satu atau dua jam dia akan bosan membaca. Dia akan merasakan kelelahan, bahkan kebosanan ini mungkin berlangsung dalam waktu yang cukup lama.
Akan tetapi, jika ia membagi waktunya yang enam jam tersebut untuk enam macam disiplin ilmu yang berbeda dengan mengalokasikan waktunya tiap jam untuk satu macam disiplin ilmu, maka insya Allah rasa bosan itu akan lenyap, bahkan ia akan merasakan bahwa waktunya terasa kurang. Misalnya, ia mengalokasikan enam jam tersebut masing-masing satu jam untuk pelajaran aqidah/ tauhid, satu jam untuk tafsir, satu jam untuk fiqih, satu jam untuk hadits, satu jam untuk bahasa Arab, dan satu jam untuk materi taszkiyatun nafs. Maka, ketika ia bosan membaca maupun menghafal satu disiplin ilmu, maka ia akan berpindah ke ilmu yang lain. Tanpa terasa, ia telah memanfaatkan waktunya untuk sesuatu yang sangat bermanfaat, bahkan ia berkeinginan untuk menambahkan alokasi waktunya dalam belajar, tanpa merasa bosan dan letih.
Melakukan variasi ilmu dalam membaca atau belajar memiliki beberapa manfaat, antara lain:
1. Membuka wawasan bagi penuntut ilmu, karena ia memabaca berbagai macam ilmu syar’i. Sebab, ilmu syar’i merupakan suatu mutiara yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya.
2. Membuat seseorang tidak merasa bahwa waktunya cepat habis ketika membaca. Bahkan ketika waktunya untuk satu ilmu tertentu sudah habis, maka dia berharap masih belum habis karena ia bersemangat dalm menuntut ilmu.
3. Variasi tersebut dapat menyenangkan hati dan memperbaharui semangat dalam belajar.

Masalah yang sering muncul ketika seseorang telah melakukan ketiga variasi di atas, padahal dia termasuk orang yang semangat tinggi dalam belajar adalah dia tidak mendapatkan satu manfaatpun ketika membaca atau belajar. Dia merasa tidak mengingat sedikitpun dari apa yang dibaca sebelumnya. Sebenarnya, penyebab dari permasalahan ini adalah dia tidak mengikuti metode yang benar dalam membaca dan memahami isi buku. Solusi dari permasalahan tersebut antara lain:
1. Usahakan di tengah-tengah membaca untuk menaruh tanda atau memberi warna pada kalimat penting yang didapati ketika membaca.
2. Ketika membaca beberapa bab, usahakan bias menemukan pokok pikiran yang ada dalam bab-bab tersebut. Tulislah pokok pikiran tersebut di footnote atau di sisi kanan/ kiri halaman buku.
3. Setiap bab atau pasal yang panjang memiliki beberapa paragraph, maka usahakan menemukan ide utama di setiap paragraph, dan tulislah di footnote.
4. Setelah selesai membaca satu bab, tulislah ringkasan yang memuat pikiran utama atau penjelasan lainnya yang dianggap penting.
5. Simpanlah ringkasan-ringkasan tersebut di dalam satu file khusus atau lampirkan di bagian akhir buku, karenaringkasan inni sama dengan ringkasan dari buku tersebut.
Masalah lain yang sering muncul ketika membaca adalah tentang posisi duduk yang tidak benar dan dapat berpengaruh buruk terhadap semangat membaca/ belajar juga kesehatan kita. Masalah ini dapat diatasi dengan mengikuti metode yang benar ketika duduk membaca, seperti yang akan disebutkan di bawah ini:
1. Usahakan di tempat membaca memiliki suhu udara yang baik, tidak terlalu panas dan tidak pula terlalu dingin.
2. Cahaya lampu yang baik/ sesuai, yaitu tidak terlalu gelap dan tidak terlalu terang hingga menyilaukan mata.
3. Di saat membaca usahakan jarak antara buku dan mata Anda tidak terlalu dekat atau terlalu jauh, misalnya sekitar 30 cm.
4. Apabila di tengah-tengah membaca anda merasakan lemah pandanagan, keluar air mata, terasa sakiy mata, atau pusing di kepala, maka segeralah periksa ke dokter, barangkali Anda membutuhkan bantuan kaca mata.
5. Usahakan selama membaca agar punggung Anda selalu luruas, tidak membungkuk, atau sedikit membungkuk. Jika terlalu membungkuk akan melelahkan mata Anda.

Selain membagi waktu dan melakukan variasi dalam membaca seperti yang telah disebutkan di atas, kitapun perlu melakukan variasi dalam metode belajar. Sebenarnya banyak sekali metode dalam belajar yang dapat kita gunakan, agar semangat kita tidak kendor di tengah jalan. Di antaranya yang terpenting adalah:
1. Menghadiri kajian ilmiah yang umum atau khusus, dengan mendengar langsung penjelasan ilmu syar’i dari seorang guru atau ustadz.
2. Membaca kararagan para ulama, seperti kitab, artikel, maupun karya mereka yang lain.
3. Mendengarkan kaset, MP3, maupun VCD ceramah agama, kemudian kita menulis poin-poin penting dari ceramah tersebut.
4. Menghafalkan ilmu dan mengulanginya terus-menerus agar tidak lupa.
5. Menghubungi seorang yang alim (misalnya ustadz) untuk menanyakan kesulita yang kita hadapi dalam mempelajari suatu disiplin ilmu syar’i.
6. Berdiskusi dan berdialog dengan teman tentanga suatu tema atau masalah yang kita pelajari
7. Melakukan muraja’ah terhadap ilmu yang telah kita pelajari dan dihafal sebelumnya.

Demikian tadi beberapa tips agar semangat belajar ilmu syar’i terus berlangsung. Selamat mencoba, semoga Allah memudahkan usaha kita dalam menuntut ilmu. Wallahu a’lam.

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

salam

assalammualaikum

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized